Langsung ke konten utama

Untukmu Anakku, Jadilah Lelaki Tangguh


Dear buah hatiku,

Hanya sebulan sekali kita bisa bertemu,
bisa memeluk dan menciummu,
Hanya empat kali bahkan kurang dalam sebulan bisa memandang wajahmu,
Melihat senyum diwajahmu dan air mata yang mengambang di pelupuk matamu
Tapi dengan penuh kekuatan, diri ini terus menyemangatimu.

Tak boleh menangis, 
Tak boleh cengeng!
Harus kuat!

Jaga kondisi, kalau banyak sedih nanti jadi lemah, yakin dan berserah diri pada Allah.
Itu yang slalu kusampaikan padanya,
Slalu menjadi penyemangat,
Meski di dalam hati ini pun bergemuruh sepertu lautan dahsyat,
Air mata ini seperti merontak ingin pecah menghantam bendungan yang kubangun kokoh dengan seribu satu kekuatan.

Tapi di depannya, mata ini tak boleh basah.
Wajah ini harus menunjukkan ketegaran.
Meski badan tak sehat terasa hangat,
Tapi tetap harus berbohong dihadapannya,
Demi kebaikannya,

"Umi baik baik saja, sayang.. Alhamdulillah.
Jangan pikirkan umi, konsentrasi belajar saja sayangnya umi... Minta slalu pada Allah segala kebaikan hidup di dunia dan akhirat."

Tak lama bicara hanya beberapa menit saja, percakapan via phone harus di akhiri,

"Kenapa sudah?"
"Ngga apa apa, mi"
"Kenapa?" tanyaku memaksa,
"Saleh sedih aja tiap bicara sama umi" jawabnya terbata, air matanya terlihat sedikit mengambang.
"Jangan nangis.. Sabar,, ingat, ngga boleh sedih sedih" lagi lagi kata kataku menyemangati, meskipun hati ini sesungguhnya sedih luar biasa.

Seperti biasa, setelah menutup percakapan di telepon, air mata ini pun tumpah, tak lagi sanggup dibendung...

"Nak, umi rindu..."

Doaku hanya slalu minta Allah menjagamu, memberimu kekuatan lahir batin....
Mengenyangkanmu akan ilmu dan makanan saat engkau merasa lapar, karena aku tau, tak bisa lagi engkau menikmati makanan sebebas saat engkau berada di rumah...

Maka kupinta pada-Nya, biarlah Allah yang memberikanmu kenyang wahai Zat Yang Maha Pemurah.

Sehat sehat terus sayangku, meski cemas hati ini hanya Allah Yang Mengetahui, dalam situasi negeri yang terinveksi virus, engkau berada jauh dari hadapanku, kuminta Allah dan para Malaikat-Nya menjagamu, slalu menjagamu.

Nak, maafkan umi yang slalu merindumu, 
Karena umi tau setiap kali aku merindumu, pasti hatimu tergetar karena kerinduan ini,

Dan ketika aku merindumu,
Saat itu pun engkau sedang merindukanku, ibumu....

Maafkan aku ya Rabb, yang masih saja menangis saat merindukan buah hatiku,
Sementara aku telah ikhlas dan ridha padanya,
Berikan kekuatan lahir dan batin untuk ku dan anakku, agar kami bisa kuat melewati masa masa ini.

Berikan ilmu yang banyak untuknya,
Permudahkan hafalannya,
Sehatkan hati, jasad dan pikirannya
Berikan yang terbaik slalu untuknya.....
Lindungi dia di mana pun keberadaanya.

Aamiin ya Allah ya Rabb

Dear Salehku sayang,
Jadilah lelaki tangguh kebanggaan kedua orangtuabdan saudara-saudarimu,
Dan jadilah hamba yang taat kecintaan-Nya,

Mommy miss U much
19 Maret 2020

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bahaya Hutang Piutang, Jangan Terpancing Emosi Apalagi Memviralkannya.

Rasanya hampir sudah tak asing lagi ketika kita melihat postingan di beranda facebook seseorang yang bertuliskan,  "Maaf ya terpaksa gue viralin ni orang gak tau diri, biar pada tau semua, ati-ati sama orang kaya' gini... udah dikasih ngutang, giliran ditagih susah bener, sampe capek nagihnya,  tetep aja gak kesadaran juga !" Kurang lebih demikian kata-katanya, disertai beberapa gambar bukti chat adu mulut antara orang yang berhutang dan si pemberi hutang. Lalu selang beberapa menit kemudian, ramailah postingan itu menuai komen, dari yang mencibir kelakuan si penghutang, membully minta dihastag siapa orangnya, menyimpan nomer telepon orang yang berhutang untuk bisa menerrornya, bahkan sampai yang menegur kiranya jangan memosting hal tersebut karena merasa kasihan pada orang yang diviralkan itu. Maka sebentar saja viral-lah postingan hutang  yang seharusnya tidak disajikan untuk konsumsi publik, karena akan memberikan dampak negatif bagi orang yang dipermalukan...