Langsung ke konten utama

Teman Curhat Yang Baik


Yuk Jadi Teman Curhat Yang Baik.

Tau nggak, saya selalu berpesan kepada orang-orang terdekat saya, begini,

“Inget ya, dalam hidup tolong jangan sampai kita berperan antagonis pada orang yang sedang butuh kita jadi teman curhatnya.”

Kenapa? Karena otomatis yang curhat pasti akan kesal ke kita.

Sementara, kita semua tau bahwa seseorang yang mau curhat tentang masalahnya ke kita berarti dia mempercayai kita.

Dia mau terbuka untuk menceritakan masalah yang sedang mengganjal di hatinya, lantas kita malah bersikap antagonis padanya, maka kita akan terlihat seperti musuh baginya.

Sebaiknya dengarkan saja dulu apa yang disampaikan dalam curhatannya.

Jika dia meminta pendapat, nasihat atau solusi, baru kita sampaikan seandainya kita mampu, karena belum tentu orang yang sedang curhat itu butuh pendapat, saran atau pun solusi dari kita, bisa jadi dia hanya butuh kita untuk mendengarkan curhatannya.

Dan sekarang ini, lebih banyak, ketika seseorang butuh teman curhat, malah teman curhatnya bersikap seperti seorang antagonis.

Contoh,

Teman Curhat Antagonis. (TCA)

Curhat : “Duuhhh, kenapa ya aku tuh kesel banget sama mertuaku, rese, tukang ngatur, bla bla bla.. Pusing aku… Gak kuat!”

TCA : “Udah mba, jangan gitu… Mertua kan juga manusia… Dia yang udah melahirkan suami mba, menyekolahkan, merawat sampai suami bisa seperti sekarang ini…inget loh mba, besok besok mba akan jadi mertua”

Curhat : #-/65,,98/@()$@@/?,* (auto Pasang muka frustasi)
.
.
Teman Curhat Protagonis. (TCP)

Curhat : “Duuhhh, kenapa ya aku tuh kesel banget sama mertuaku, rese, tukang ngatur, bla bla bla.. Pusing aku… Gak kuat!”

TCP : “Iya mba, yang sabar ya… ”

Curhat : “Iya aku udah sabar, sabaar… Tapi terus-terusan seperti ini, mau sampe kapan kaya gini terus sih mertua aku…”

TCP : “Iya mba aku ngerti…memang kadang mertua suka seperti itu..”

Curhat : “Benerkan…. Makanya aku tuh ngga ngerti…mereka kenapa suka seperti itu..”

Nahh, jawabam jawaban TCP bukan berati mau mengompori atau ikut menjelek-menjelekkan apa yang sedang jadi bahan curhatan. Bukan!

Ikuti saja dulu alurnya seperti air, ketika mulai surut atau reda maka dasarnya akan terlihat jelas, mau ke mana arahnya, harus bagaimana.

Setelah arahnya jelas, dan mulai mereda, dengan tetap melihat sikon si pen-Curhat, barulah di situ kita bisa mulai memainkan peran kita, mau jadi penceramah, dokter, psikiater, chef, atau bahkan jadi pakar seksologi, ahli manajemen, dan lain-lain, wes silahkan, dengan tetap mengedepankan tata bahasa yang baik, agar tidak menyinggung perasaan orang lain.

Pertanyaan terakhir, Emang itu untuk curhat yang di mana?

Di mana saja, mau curhat langsung (bertemu atau bisa melalui percakapan di telepon)
atau curhat tidak langsung.

Curhat tidak langsung contohnya seperti orang yang curhat di status whatsapp, status facebook, di chat messenger, yang sifatnya tidak bertemu dan diucapkan secara langsung.

Oh iya, sebelum kelupaan,

Sedikit saran untuk kita semua yang terkadang juga butuh teman curhat, untuk curhatan yang lebih pada bersifat pribadi atau rahasia, sebaiknya cari teman curhatmu yang amanah (bisa dipercaya), jujur, baik dan juga memiliki wawasan yang luas.
.
Dan sebagai penutup, kembali saya mengingatkan, sesungguhnya, tempat curhat yang paling indah hanyalah kepada Allah, sebagaimana jawaban Nabi Ya’qub yang perlu diteladani oleh setiap muslim,

قَالَ إِنَّمَا أَشْكُوْ بثّيْ وَ حُزْنِيْ إِلَى اللهِ

“Dia (Ya’qub) menjawab: “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.”
(QS Yusuf: 86)


Wasalam.
Jazakumullah khair.


Jakarta, 22 Oktober 2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bahaya Hutang Piutang, Jangan Terpancing Emosi Apalagi Memviralkannya.

Rasanya hampir sudah tak asing lagi ketika kita melihat postingan di beranda facebook seseorang yang bertuliskan,  "Maaf ya terpaksa gue viralin ni orang gak tau diri, biar pada tau semua, ati-ati sama orang kaya' gini... udah dikasih ngutang, giliran ditagih susah bener, sampe capek nagihnya,  tetep aja gak kesadaran juga !" Kurang lebih demikian kata-katanya, disertai beberapa gambar bukti chat adu mulut antara orang yang berhutang dan si pemberi hutang. Lalu selang beberapa menit kemudian, ramailah postingan itu menuai komen, dari yang mencibir kelakuan si penghutang, membully minta dihastag siapa orangnya, menyimpan nomer telepon orang yang berhutang untuk bisa menerrornya, bahkan sampai yang menegur kiranya jangan memosting hal tersebut karena merasa kasihan pada orang yang diviralkan itu. Maka sebentar saja viral-lah postingan hutang  yang seharusnya tidak disajikan untuk konsumsi publik, karena akan memberikan dampak negatif bagi orang yang dipermalukan...