"Sebaiknya tidak meninggalkan anak-anak kecilmu sendirian, terlebih berada di luar rumah saat menjelang maghrib".
Ku kira cuma aku saja yang sering beberapa kali melihat penampakan yang lewat di depan kamar, ternyata putri bungsuku juga menangkap sosok bayangan hitam tinggi di depan kamar.
Awalnya suamiku tidak percaya, dia bilang hanya imajinasiku aja,
"Baca doa, jangan terlalu suka melihat sosok-sosok itu", katanya.
"Ngga ada yang mau lihat, Abah...tapi dia lewat beberapa kali, bahkan penampakan kakinya yang berbulu hitam mencoba masuk ke kamar tapi sekelebat langsung menghilang karena teriakanku 'Astaghfirullahal adziim ngapain sihh mau masuk', jadi bukan aku yang sengaja mau melihat penampakan mereka."
Suamiku terdiam, sebab dia tau pasti, kalau aku sudah melihat sosok sekilas penampakan 'mereka', memang makhluk-makhluk itu pasti ada.
Dan tadi sore jelang maghrib. si kecil pun menjerit dari dalam kamar karena melihat sosok hitam tinggi besar itu.
Aku bilang padanya,"Sudah biarkan saja, lagi pada iseng gak jelas pada mau ngapain."
Mungkin yang mengirimnya, meminta makhluk hitam itu untuk terus memata-matai kondisi rumah kami, setelah sebelumnya mengirimkan sosok ular hitam besarrr dan sosok buaya besar di hadapanku saat menjelang azan maghrib, diiringi dengan hembusan angin dingin dari sisi jendela.
Lagi-lagi saat aku melihat kedua sosok makhluk itu saat si bungsu ada di sampingku, teriakanku mengagetkannya, karena penampakan ular hitam besar itu tidak jauh dari tempatnya duduk.
Putriku menoleh dan terkejut, kujelaskan padanya apa yang kulihat barusan, dia mengangguk mengerti.
Begitu juga dengan kejadian yang masih segar diingatankj beberapa tahun lalu saat aku dan sibungsu berkunjung ke Solo, bangunan itu dekat pasar klewer.
Sore itu, saat aku dan si bungsu berada di tengah-tengah bangunan berdinding putih beratap biru yang melingkar itu, tiba-tiba putri bungsuku menunjuk ke arah pohon besar yang mungkin sudah berumur ratusan tahun yang berada tepat di tengah-tengah bangunan besar itu dan berkata,
"Mi... Kenapa banyak kuburan di bawah pohon itu?", tanyanya.
Aku tersentak,
"Duhh sayaang... Udah jangan dilihat, yuk kita teruskan berkeliling ke ruangan-ruangan lain."
Perasaan aku jadi nggak karuan, karena ternyata si kecilku juga bisa melihat hal-hal tak kasat mata, kugenggam tangannya, sambil mengucapkan doa-doa untuk memagarinya dari hal-hal yang dapat menyakitinya.
Bahkan sampai ke dalam ruangan berikutnya yang kami kunjungi, saat mau berfoto di kereta kencana yang dulu ditarik dengan kuda, putri bungsuku menolak, tapi kupaksa, dan akhirnya ia mau juga berfoto tanpa mau melewati batas berwarna merah, tapi dengan wajah yang penuh waspada, entah apa yang dilihatnya.
Maka, saranku, sebagai orangtua kita patut waspada, sebab pandangan mata anak-anak terkadang mampu menangkap sosok makhluk gaib atau abstral, bila anak-anak kita jiwanya kuat, maka tidak apa-apa, tapi jika mereka sedikit lemah, itu yang dikhawatirkan, karena mereka tiba-tiba saja bisa sakit, panas, muntah-muntah, kejang, mata yang terus terbuka lebar, meracau, tak bisa menelan makanan, tatapan matanya kosong, dan lain sebagainya.
Satu lagi, jangan bawa anak-anak ke tempat yang memang banyak makhluk-makhluk abstral berkumpul, seperti pasar, makam, di bawah pohon-pohon besar dan lain sebagainya, tanpa kita mengawasinya dengan baik, dan sebaiknya jangan bawa mereka ke tempat-tempat seperti itu saat sore menjelang maghrib.
Dan jangan biarkan anak-anak berada di luar menjelang maghrib sampai waktu malam.
Kejadian ini pernah dialami juga oleh putri bungsuku, saat itu jelang maghrib, sudah beberapa kali kupanggil ia masuk, tapi rupanya ia masih senang berada di luar, padahal biasanya ia sudah selalu berada di dalam rumah dari mulai pukul 5 sore, tapi entah hari itu ia malah masih ingin berada di luar.
Benarlah firasatku, keesokan harinya tiba-tiba saja ia tak bisa menggerakkan kedua kakinya saat bangun pagi, tak bisa turun dari tempat tidur hingga ia pun menangis.
"Miii, kaki aku sakiiit. Aku gabisa jalaaan.", tangisnya.
Deg! Tidak karuan pikiranku rasanya, tapi aku mencoba tetap tenang, tidak mau menunjukkan sedikitpun kepanikan, agar putriku pun tidak gelisah.
Sebagai ibu, aku lantas yang mengambil alih menjadi kedua kakinya, kugendong ia setiap kali hendak ke bilik kecil.
Dengan segala yang kumampu, kuusahakan mengobati kakinya, dan ini bukan hanya pengobatan yang terlihat oleh kedua netra, tapi lebih pada sesuatu yang tak kasat mata.
"Lain kali jelang maghrib masuk ya, itu depan tanah kosong besar itu banyak yang berlari-larian jelang maghrib, ada yang keinjek sama kamu, makanya mereka marah, jadi begini akibatnya", ku katakan padanya, dan ia pun mengiyakan sambil berurai air mata menahan rasa sakit.
Kuobati terus kaki dan seluruh badannya, kurang lebih selama beberapa hari, aku bilang pada mereka, makhluk-makhluk itu, untuk memaafkan kesalahan anakku dan pulanglah kalian ke tempat asal kalian, ia hanya anak kecil yang tanpa sengaja membuat kalian tersakiti.
Ini perangku melawan ibu makhluk abstral itu yang anaknya terluka.
Dan akhirnya mereka pun mau melepaskan diri dari kaki anakku setelah beberapa hari.
Alhamdulillah.
Anakku hampir tidak percaya dengan usahaku itu, ia berdecak kagum, karena kakinya kembali pulih seperti sebelumnya.
"Kok umi bisa ya? Padahal sakit sekali sampai nggak bisa digerakkan." katanya.
"Iya Alhamdulillah dengan izin Allah.", jawabku.
Maka sejak peristiwa itu, ia benar-benar enggan berada di luar rumah menjelang maghrib.
Suatu pelajaran berharga yang luar biasa untuk anak sekecilnya.
Sepertinya, apa yang kudapatkan saat ini turun begitu saja dari Abiku, wallahu alam.....
Tentang waktu Maghrib, Rasulullah Salallahu alaihi wasallaam bersabda:
“Ketika malam turun, dekatkanlah anak-anak kalian kepadamu, karena waktu itu syaithan berkeliaran, sejam kemudian kalian dapat melepaskan mereka. Dan tutuplah pintu-pintu rumahmu dan sebutlah nama Allah. Padamkanlah lampu dan sebutlah nama Allah. Tutuplah minumanmu dan sebutlah nama Allah. Tutuplah juga bejanamu dan sebutlah nama Allah. Sekalipun hanya dengan meletakkan sesuatu di atasnya.” (HR. Bukhari)
•••••
Komentar
Posting Komentar