Langsung ke konten utama

CreepyPasta



Sudah lama tangan ini gatal rasanya untuk menuangkan sedikit kejanggalan di hati, ingin sedikit memberikan tanggapan tentang tulisan-tulisan bermuatan sadis atau lebih dikenal Dengan #CreepyPasta atau Keripik Pasta.

Mungkin banyak penyuka genre ini, yang jelas saya nggak tau kenapa, dan gak perlu mencari tau lebih jauh mengapa.

Terus terang, buat saya, saya penyuka atau penikmat yang namanya keripik apalagi keripik pedass yang diolah dengan cabai asli pilihan, lalu dikonsumsi dengan segelas teh manis panas.

Wiiih nikmat!

Tapi untuk jenis keripik pedas yang proses bikinnya pakai berdarah darah supaya bisa tampil berwarna merah, terus terang saya enggan menikmatinya, meskipun pewarna merah itu mungkin tidak asli dari darah, tapi menurut saya bisa saja dari pewarna baju.

Karenanya saya nggak mau mengkonsumsi itu, sebab membayangkannya saja bisa membuat saya jadi sakit perut.

Terlalu banyak unsur kekerasan yang ditampilkan menakutkan, horror, sadisme, pembunuhan, dan karakter-karakter lain yang menyeramkan pastinya.

Saya mau sedikit bercerita sedikit tentang Film bernuansa keripik pedas tadi, meskipun waktu itu kita belum mengenal istilah creepypasta, nah film ini adalah film pertama kali yang pernah saya tonton dua puluh tahun lalu, tetapi ternyata hasilnya membekas sampai hari ini.

Menurut saya itu film yang terjahat, tersadis, termistis, terzalim, terkejam, tergila, dan ter ter negatif lainnya yang pernah saya tonton, untuk pertama dan terakhir kali.

Film dgn judul What's in your soup atau "ada apa dalam soupmu" kurang lebih bahasa Indo nya demikian.

Di mana film itu mengangkat kisah tentang seorang perempuan yg sudah dianiaya atau diperk*sa bersama sama oleh beberapa lelaki temannya, kemudia tubuh perempuan itu ditebas dan dicincang-cincang menjadi potongan-potingan kecil di kamar mandi dan diletakkan di bathup, setelahnya para pelaku tak tau mau membuang potongan tubuh itu kemana, maka mereka mdapat ide dan sepakat memasak tubuh perempuan itu menjadi sebuah soup, ya soup daging manusia, dst dst.

Dan yang menyebalkannya, setiap menit kisah dalam film china tersadis itu masih melekat diingatan hingga detik ini.

Atau saat pertama kali kisah tahun 80an di saat pertama kali stasiun televisi kita memberitakan tentang bu guru Diah atau dikenal juga dengan Nyonya Diah yg dibunuh dengan sadis dan dimutilasi hingga 7 bagian oleh suaminya, saya yang masih kecil bahkan bs mengingat jelas berita itu hingga hari ini.

Dan setau saya itu adalah kasus mutilasi pertama di Indonesia yang sempat ditayangkan di Era Presiden Soeharto, sampai hari ini saya masih belum bisa menjawab pertanyaan yang timbul mengapa kasus itu sempat disiarkan? Sementara yang saya tau bahwa pada era itu adalah tidak diperbolehkannya kebebasan pers! Bahkan lagu-lagu dengan nuansa cengeng pun dipermasalahkan.

Satu contoh, lagu Takdir Desy Ratnasary yang sempat menuai kecaman keras, karena liriknya yang menganggap "Takdir memang kejam tak mengenal perasaan."

Kurang lebih seperti itu. Yang pernah saya tau negeri ini tak boleh jadi negeri yang cengeng! Rakyat tidak boleh bermental lemah karena disuguhkan lagu-lagu cengeng yang otomatis aksn merubah kejiwaan seseorang.

Kita baru merdeka beberapa puluh tahun setelah ratusan tahun hidup penuh dengan penindasan penjajah, lalu mengapa disajikan lagi tentang penderitaan, air mata dan kekerasan?

Tidak boleh!

Meskipun kenerdekaan negeri ini diperoleh dari perjuangan atas darah dan air mata rakyat dan para pahlawan. Kita harus bangkit menjadi rakyat yang kuat!

Skip.

Tapi kemudian semua berubah seiring waktu, kebebasan oers dijunjung tinggi.

Baiklah, baiklah. Siapa saja bebas berkisah, siapa saja bebas bersuara dan berpendapat.
Tapi, bukan berarti siapa saja bebas berbuat kerusakan dan menjadi penjunjung kejahatan, akibat rusaknya nental dan onderdil dalam tubuh dan jiwa.

Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat, berarti banyak jiwa yang sakit karena tubuh yang tidak lagi sehat.

Banyak tubuh rakyat negeri ini yang sakit, benarkah? Mengapa? Entahlah, kemajuan peradaban, canggihnya teknoligi di dunia ternyata juga banyak berdampak negatif, banyak oknum yang menghalalkan segala cara demi pundi-pundi cuan, meskipun merusak atau mengorbankan tatanan yang tidak seharusnya dikonsumsi.

Kembali lagi tentang masalah keripik tadi, coba bayangkan, bagaimana dengan orang lain yang jika sudah ada bibit psikopat dlm dirinya jika mereka mengkonsumsi keripik-keripik pedas yang mengandung zat mematikan dan tanpa sadar bisa membunuh dan menghilangkan nyawa orang lain?

Bisa d bayangkan efek kedepannya kan seperti apa? Bayangkan saja sejenak atau dua tiga jenak.

Itulah pentingnya seorang author memilah milih bahan apa yang akan dituangkan menjadi sebuah tulisan untuk dinikmati oleh penikmat bacaan, seoerti layaknya seorang chef yang memilih bahan-bahan berkualitas untuk dijadikan menu istimewa, agar keripik yang bisa dinikmati pembaca mungkin keripik pedas dengan tambahan varian keju atau lada hitam yang greget yang tidak ajan bikin penikmat menjadi sakit tenggorokan dan ngefek negatif di hari-hari ke depan.

Atau bisa juga kita mencontoh kerja chef yang mengelola ikan buntal atau ikan fugu yang sering digunakan dalam masakan-masakan restoran Jepang, ikan yang memiliki racun tetrodotoksin, jenis racun yang lebih mematikan dari sianida, seseorang bisa meregang nyawa dalam waktu kurang lebih 4-6 jam setelah menelan racun tetrodoksin tersebut.

Tetapi hebatnya. Ikan tersebut bisa dikelola dengan baik oleh seorang chef ahli tanpa perlu membuang racun itu dari tubuh ikan fugu, dan setelahnya makanan tersebut layak dikonsumsi, bahkan menjadi salah satu jenis makanan yang terenak di dunia.

Begitu juga dengan keripik pasta, bagaimana cara kita mengelolanya menjadi sajian yang nikmat dan layak dikonsumsi tanpa perlu menambahkan bumbu-bumbu berdarah yang membuat pembaca bergidik ngeri saat menikmatinya atau menjadi psikopat setelahnya.

Eat the meat but dont eat the skin!
.

Salam literasi🤗

Work in Silent,

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bahaya Hutang Piutang, Jangan Terpancing Emosi Apalagi Memviralkannya.

Rasanya hampir sudah tak asing lagi ketika kita melihat postingan di beranda facebook seseorang yang bertuliskan,  "Maaf ya terpaksa gue viralin ni orang gak tau diri, biar pada tau semua, ati-ati sama orang kaya' gini... udah dikasih ngutang, giliran ditagih susah bener, sampe capek nagihnya,  tetep aja gak kesadaran juga !" Kurang lebih demikian kata-katanya, disertai beberapa gambar bukti chat adu mulut antara orang yang berhutang dan si pemberi hutang. Lalu selang beberapa menit kemudian, ramailah postingan itu menuai komen, dari yang mencibir kelakuan si penghutang, membully minta dihastag siapa orangnya, menyimpan nomer telepon orang yang berhutang untuk bisa menerrornya, bahkan sampai yang menegur kiranya jangan memosting hal tersebut karena merasa kasihan pada orang yang diviralkan itu. Maka sebentar saja viral-lah postingan hutang  yang seharusnya tidak disajikan untuk konsumsi publik, karena akan memberikan dampak negatif bagi orang yang dipermalukan...