Langsung ke konten utama

Bisakah kita membedakan Pendidikan Sex dengan Konten 18+




Sering saya melihar kegelisahan segelintir remaja yang sempat protes dengan adanya tulisan-tulisan dari para penulis di group-group menulis media sosial, protes mereka ditujukan pada judul maupun isi di dalam tulisan-tulisan tersebut, karena penulisan tersebut menyelipkan kalimat yang berbau vulgar atau pornografi.

Dari komen-komen pada tulisan itu, kita mungkin bisa menilai bagaimana warna kepribadian seseorang, daya fikir, pola pikir, serta karakternya, meskipun tidak secara keseluruhan kita bisa mengambil kesimpulan siapa penulis itu sesungguhnya.

Pada dasarnya, inilah jawaban mengapa negeri kita dengan mudahnya terkontaminasi unsur-unsur negatif yang dengan gamblangnya merusak moral dan akhlak bangsa ini.

Sekarang, mari kita bicara sebagai orang tua, bagaimana cara kita mengawasi, menjaga dan menyikapi anak-anak kita, sejak kecil hingga dewasa.

Saya ingin bertanya kepada orang tua, apakah kita sudah yakin bahwa kita bisa sepenuhnya mengawasi anak-anak kita dengan baik, sejak mereka kecil? Apakah kita sudah yakin bahwa penjagaan kita terhadap si anak 1000% berhasil dan bagaimana kita menyikapi bila ternyata anak-anak kita kedapatan melakukan sesuatu yang belum seharusnya ia lakukan?

Sudah yakinkah para orang tua bahwa kita telah melakukan hal yang terbaik untuk anak-anak kita?

Mungkin sebagian menjawab, ooo saya yakin anak-anak saya baik-baik saja, karena di rumah saya melarang keras mereka bermain gadget. 

Yang lain menjawab yakinlah.. karena saya sudah mengajarkan tentang sex education, kalau dulu kan tabu tapi sekarang saya ajarkan.

Orang tua lain menjawab ora urus! Saya banyak kerjaan, anak pasti juga mengerti mana yang benar mana yang tidak benar!

Sebagian lain menjawab, bukan urusan saya, yang penting ini bukan anak saya!

Wahai orang tua yang budiman, 

Sesungguhnya kalian punya tugas dan tanggung jawab berat terhadap anak-anakmu terutama, dan terhadap manusia lainnya, dan yang lebih penting kita manusia harus bertanggung jawab atas diri kita terhadap Allah, camkan itu baik-baik wahai orang tua!

Kita siap menjadi orang tua, berarti kita siap menghadapi resiko dan tanggung jawab seberat apa pun! 

Tanggung jawab orang tua bukan hanya sekedar memberi makanan yang bergizi sejak anak dalam kandungan Ibunya, bukan hanya tanggung jawab pendidikan, kesehatan dan fasilitas untuk sang anak, pun bukan hanya dengan kebahagiaan mengajak mereka liburan keliling dunia.

Orang tua bertanggung jawab tidak hanya pada memberikan makanan bergizi untuk jasmani sang anak, tapi kita lupa memberikan makanan ruhani untuk anak kita.

Kita hanya berfikir memberikan pakaian untuk menutup fisik anak kita, tapi kita lupa pakaian untuk mental anak kita, pakaian yang harus ia kenakan untuk membentengi dirinya dari pengaruh buruk sekitarnya.

Bahkan kita berusaha memberikan fasilitas kendaraan yang baik untuknya agar ia bisa merasa nyaman berjalan kemana pun yang ia tuju, tapi kita lupa menyiapkan kendaraan yang baik yang akan digunakannya dalam perjalanan menuju akhirat.

Bukan saja hanya pendidikan dunia hingga dengan bangganya kita atas gelar duniawi yang anak kita peroleh tapi kita lupa memberikan pendidikan akhirat yang justru adalah sebagai tempat tinggal abadi kelak. 

(Pernahkah kita membaca tulisan yang berjudul KALAULAH SEMPAT karya Henmaidi Alfian seorang motivator, yang pernah viral sebagai tulisan Bapak BJ. Habibie, jika belum mungkin nanti akan saya tambahkan di akhir penulisan saya ini)

Dan sudahkah kita yakin telah memberikan kesehatan yang baik atas anak kita, kesehatan yang bukan hanya sekedar mengobati tubuhnya yang sakit atau kesehatan fisiknya, tapi kita lupa tentang kesehatan mentalnya.

(Sebagai contoh, ingatkah kita pada kasus Reynhard Sinaga, yang diberi julukan 'Predator seksual setan', seorang pemerkosa berantai terbesar yang masuk dalam sejarah Inggris? dan itu hanya salah satu contoh saja dari banyaknya kasus yang terjadi di depan mata kita saat ini)

Kita hanya sibuk mengajak anak-anak kita untuk destinasi wisata berkeliling dunia, tapi kita lupa mengajaknya berwisata religi, atau sudah pernahkah kita mengajak anak-anak kita berwisata melihat realita sesungguhnya bila manusia melakukan keburukan dan kejahatan, memperlihatkan mereka bahwa inilah resiko yang harus diterima jika kita melakukan kejahatan semisal penjara, tempat yang akan mengurung kebebasan manusia, dan lain sebagainya.

Ingat, ayah bunda, sebagai orang tua tugas kita berat, bahkan teramat berat.

Mungkin bagi sebagian pembaca tulisan ini akan menganggap, "aah gak penting, biasa ajalah, gak usah segitunya lebay sampe jauh banget bawa-bawa akhirat."

Baik, tidak apa-apa, semua orang bebas berfikir dan berkehendak. Tapi satu yang harus kita ingat, apakah kita sudah tau tentang jadwal pasti kematian kita? 

Ada yang bisa jawab untuk memastikannya? 

Tugas dan tanggung jawab kita di dunia sebagai orang tua terhadap anak dan manusia lainnnya baru akan terhenti ketika ruh sudah berpisah dari jasad, dan pada saat itu justru tanggung jawab kita atas diri kita dan anak-anak kita terhadap Allah justru baru di mulai. 

Karena Allah akan meminta pertanggungjawaban kita atas amanah yang telah dititipkan-Nya terhadap kita, yaitu di antaranya adalah tentang anak-anak kita.


Work in silent,
Jakarta, 22 Oktober 2020

NesyaHadar

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bahaya Hutang Piutang, Jangan Terpancing Emosi Apalagi Memviralkannya.

Rasanya hampir sudah tak asing lagi ketika kita melihat postingan di beranda facebook seseorang yang bertuliskan,  "Maaf ya terpaksa gue viralin ni orang gak tau diri, biar pada tau semua, ati-ati sama orang kaya' gini... udah dikasih ngutang, giliran ditagih susah bener, sampe capek nagihnya,  tetep aja gak kesadaran juga !" Kurang lebih demikian kata-katanya, disertai beberapa gambar bukti chat adu mulut antara orang yang berhutang dan si pemberi hutang. Lalu selang beberapa menit kemudian, ramailah postingan itu menuai komen, dari yang mencibir kelakuan si penghutang, membully minta dihastag siapa orangnya, menyimpan nomer telepon orang yang berhutang untuk bisa menerrornya, bahkan sampai yang menegur kiranya jangan memosting hal tersebut karena merasa kasihan pada orang yang diviralkan itu. Maka sebentar saja viral-lah postingan hutang  yang seharusnya tidak disajikan untuk konsumsi publik, karena akan memberikan dampak negatif bagi orang yang dipermalukan...